“KOPI YANG ENAK AKAN MENEMUKAN
PENIKMATNYA…….."
Hidup memang terkadang ada yang pahit, namun juga ada
sisi manisnya. Dan itu bisa terjadi kepada siapa saja. Secangkir kopi dapat menggambarkan
sisi-sisi kehidupan diri kita, maka tidak heran secangkir kopi dapat hadir
dengan berbagai varian dan sajian. Ngopi adalah hal yang universal, dari
pelosok desa sampai metropolitan pun sudah hal jamak. Namun masalah selera
dikembalikan pada masing-masing pribadi. Penilaian terbaik akan kopi tidaklah
sama, yang bisa kita lakukan adalah belajar mengapa kopi itu dikatakan terbaik,
dan setiap orang dapat berbagi untuk itu dengan melihat dari berbagai sisi.
Sebagaimana yang pernah diakui Angga Dwimas Sasongko " Orang
Indonesia kan nggak ada budaya superhero atau cerita luar angkasa. Sulitlah
kita untuk bisa punya hal-hal seperti Marvel atau Star Wars. Namun kita punya
budaya kopi, jadi kenapa semesta (Filosofi Kopi) ini nggak kita gedein?"
Cerita yang diadaptasi dari cerita karya Dewi "Dee" Lestari. kini
aktor Chicco Jerikho dan Rio Dewanto hadir kembali dengan sekuel Filosofi Kopi
2: Ben & Jody. Drama yang terasa lebih ringan, universal, dan emosional. Harus diakui film yang diadaptasi dari cerpen karya
Dewi "Dee" Lestari dengan judul yang sama mampu diracik dan
dikembangkan dengan apik oleh sutradara.
Film ini masih kelanjutan dari film pertamanya,
mengisahkan perjalanan dua tahun Ben dan Jody pasca mereka menjual kedai kopi.
Mereka akhirnya berkeliling Indonesia untuk membagikan kopi terbaiknya. Namun
petualangan seru Ben dan Jody bersama Kombi Kopi akhirnya menemui jalan buntu.
Puncaknya terjadi saat di Bali, di suatu malam ketika Aga, Aldi dan Nana
memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan mereka masing-masing. Hal
inilah yang kemudian memaksa Ben dan Jody akhirnya kembali ke Jakarta untuk
mewujudkan mimpi membuat kedai kopi nomor satu di kota tersebut. Namun hal ini
bukan lah mudah, Ben seorang yang sangat idealis dengan kesempurnaan kopi,
membuat Jody merasa jengah dan selalu dibayang-bayangi Ben. Dalam usaha keras
mereka, konflik masalah pun diperluas dengan hadirnya dua tokoh baru yakni
seorang investor bernama Tarra (Luna Maya) dan barista bernama Brie (Nadine
Alexandra).
Eksplorasi Filosofi Kopi 2 ini mempengaruhi ekonomi
Indoensia. Mengapa dikatakan demikian? Penyelidikan mengenai signifikansi
artistik atau budaya dari pencapaian teknis yang dibutuhkan untuk membuat aktor
berukuran penuh tampak sebagai penikmat kopi, dan memang betul menguasai
bagaimana meracik kopi. Banyak kemungkinan lain ada, namun semua topik ini
memerlukan pemikiran dan analisis kritis, bersamaan dengan penelitian terhadap
berbagai aspek produksi, distribusi atau konsumsi film ini.
Film ini digarap dengan serius, lewat dialog-dialog lucu
dan menyegarkan yang sering dilontarkan Ben dan Jody, sinematografi yang
ciamik, skenario yang cerdas, dan minimnya plothole udah cukup jadi
bukti-buktinya. Seharusnya film-film Indonesia yang lain bisa se-membanggakan
ini, termasuk film-film yang diadaptasi dari novel dan cerpen karya Dee yang
terdahulu. Begitu juga akting para pemainnya muncul dalam kapasitas yang tidak
mengecewakan. Aktor yang berkontribusi
pada misteri intens dan menarik di jantung film? Bagaimana konstruksi film ini
mempengaruhi respons emosional penikmatnya.
Kemudian
film ini mengantarkan kita pada berbagai jenis kopi yang memang merajai
kenikmatan kopi di dunia, Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi
terbesar. Sudah tentu, kopi-kopi kita sudah jadi incaran terbaik para penikmat
kopi. Semua tersampaikan dengan baik dalam film ini, termasuk jenis-jenis kopi
yang banyak diincar di Indonesia sendiri seperti Malabar, Gayo, dan Papua. Aku
yang awam soal kopi jadi manggut-manggut tanpa perlawanan.
Walaupun ada kata filosofi,
film ini tidaklah terlalu berat dicerna. Rangkaian cerita cukup menarik dan
mampu menguras emosi penonton. Film ini juga penuh edukasi dan informasi
tentang kopi, bahwa negara kita tercita ini adalah gudangnya kopi terbaik yang
tersebar di pelosok Nusantara. Tiap daerah mempunyai karakter tersendiri dan
kenikmatannya tidak bisa disandingkan satu sama lain.
Dalam
film ini sutradara mengilustrasikan pengaruh berbagai bentuk budaya popular dengan menghadirkan cerita
yang lebih kompleks identitas para tokoh yang ditampilkan. Kali ini, alur cerita
akan mengangkat kisah cinta segi empat antara para pemainnya, yaitu Ben, Jody,
Tarra (Luna Maya), dan Brie (Nadine Alexandra). Kisah ini disajikan dengan
lebih kompleks dan mengaduk emosi dalam. Untuk segi penggambaran cerita
mengenai “Filosofi kopi dalam sequel kedua ini bagi saya terkesan kurang.
Adegan pemeran dan cerita yang dibawa lebih mengarah kepada kisah percintaan
segi empat dari dua wanita yang dimunculkan yaitu Luna Maya (Tarra) dan Nadine Nadine Alexandra (Brie) . Namun, tanggapan subjektif yang kuat
terhadap sebuah film yang membentuk ulasan film bisa menjadi dasar analisis
kritis yang kuat.Alasan mengapa menggunakan kata “filosofi masih belum
tergambar. Memiliki makna Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena
kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar.
Filsafat juga bisa berarti perjalanan
menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh
disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.
Secara Teknis Angga Dwimas Sasongko yang saya sukai dari
"Film Tentang Kopi" adalah pengamatannya yang lembut, halus, namun
penuh gaya: Seperti sekelompok orang kopi yang benar-benar mengagumkan
berkumpul bersama, dan mereka mengundang orang keren ini "bukan
profesional kopi tapi seseorang yang menghargai selera dan estetika kopi
"untuk bergaul dengan mereka. Orang baru tidak berkontribusi pada
percakapan kopi yang terjadi di sekelilingnya tapi lebih suka menyerapnya. Ia
berdiri di samping dan hanya menghormati narasi yang ada di sekitarnya, tanpa
jatuh ke dalam pertarungan bencana tapi terlalu umum untuk melangkah ke dalam
bingkai dan / atau mendorong untuk mempengaruhi arus sebuah cerita yang alami
dan otentik.
Selain
itu film ini
melibatkan bentuk-bentuk simbol visual dan linguistik untuk mengodekan pesan
yang sedang disampaikan. Ketika berkembangnya sebuah cerpen kedalam berbagai
media maka masyarakat lebih mudah mengenali cerita, karena tidak hanya dari
satu media saja. Orang yang membaca dan memiliki minat pada sastra bisa tahu
Filosifi Kopi dari cerpen, sementara para penikmat film bisa mengenal kisah
Filosofi kopi melalui film. Ya dengan kata lain kamu
yang bukan pecinta kopi rasanya juga mampu menikmati film ini secara utuh.
Yesika
Natalina Sidabutar

Komentar
Posting Komentar