Langsung ke konten utama

FILOSOFI KOPI II (2017) Kopi pertama pagi ini! Sehitam malam. Semanis Cemburu

“KOPI YANG ENAK AKAN MENEMUKAN PENIKMATNYA…….."
Hidup memang terkadang ada yang pahit, namun juga ada sisi manisnya. Dan itu bisa terjadi kepada siapa saja. Secangkir kopi dapat menggambarkan sisi-sisi kehidupan diri kita, maka tidak heran secangkir kopi dapat hadir dengan berbagai varian dan sajian. Ngopi adalah hal yang universal, dari pelosok desa sampai metropolitan pun sudah hal jamak. Namun masalah selera dikembalikan pada masing-masing pribadi. Penilaian terbaik akan kopi tidaklah sama, yang bisa kita lakukan adalah belajar mengapa kopi itu dikatakan terbaik, dan setiap orang dapat berbagi untuk itu dengan melihat dari berbagai sisi.


Sebagaimana yang pernah diakui  Angga Dwimas Sasongko " Orang Indonesia kan nggak ada budaya superhero atau cerita luar angkasa. Sulitlah kita untuk bisa punya hal-hal seperti Marvel atau Star Wars. Namun kita punya budaya kopi, jadi kenapa semesta (Filosofi Kopi) ini nggak kita gedein?" Cerita yang diadaptasi dari cerita karya Dewi "Dee" Lestari. kini aktor Chicco Jerikho dan Rio Dewanto hadir kembali dengan sekuel Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Drama yang terasa lebih ringan, universal, dan emosional. Harus  diakui film yang diadaptasi dari cerpen karya Dewi "Dee" Lestari dengan judul yang sama mampu diracik dan dikembangkan dengan apik oleh sutradara.
Film ini masih kelanjutan dari film pertamanya, mengisahkan perjalanan dua tahun Ben dan Jody pasca mereka menjual kedai kopi. Mereka akhirnya berkeliling Indonesia untuk membagikan kopi terbaiknya. Namun petualangan seru Ben dan Jody bersama Kombi Kopi akhirnya menemui jalan buntu. Puncaknya terjadi saat di Bali, di suatu malam ketika Aga, Aldi dan Nana memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan mereka masing-masing. Hal inilah yang kemudian memaksa Ben dan Jody akhirnya kembali ke Jakarta untuk mewujudkan mimpi membuat kedai kopi nomor satu di kota tersebut. Namun hal ini bukan lah mudah, Ben seorang yang sangat idealis dengan kesempurnaan kopi, membuat Jody merasa jengah dan selalu dibayang-bayangi Ben. Dalam usaha keras mereka, konflik masalah pun diperluas dengan hadirnya dua tokoh baru yakni seorang investor bernama Tarra (Luna Maya) dan barista bernama Brie (Nadine Alexandra).

Eksplorasi Filosofi Kopi 2 ini mempengaruhi ekonomi Indoensia. Mengapa dikatakan demikian? Penyelidikan mengenai signifikansi artistik atau budaya dari pencapaian teknis yang dibutuhkan untuk membuat aktor berukuran penuh tampak sebagai penikmat kopi, dan memang betul menguasai bagaimana meracik kopi. Banyak kemungkinan lain ada, namun semua topik ini memerlukan pemikiran dan analisis kritis, bersamaan dengan penelitian terhadap berbagai aspek produksi, distribusi atau konsumsi film ini.
Film ini digarap dengan serius, lewat dialog-dialog lucu dan menyegarkan yang sering dilontarkan Ben dan Jody, sinematografi yang ciamik, skenario yang cerdas, dan minimnya plothole udah cukup jadi bukti-buktinya. Seharusnya film-film Indonesia yang lain bisa se-membanggakan ini, termasuk film-film yang diadaptasi dari novel dan cerpen karya Dee yang terdahulu. Begitu juga akting para pemainnya muncul dalam kapasitas yang tidak mengecewakan. Aktor yang  berkontribusi pada misteri intens dan menarik di jantung film? Bagaimana konstruksi film ini mempengaruhi respons emosional penikmatnya.
Kemudian film ini mengantarkan kita pada berbagai jenis kopi yang memang merajai kenikmatan kopi di dunia, Indonesia adalah salah satu negara penghasil kopi terbesar. Sudah tentu, kopi-kopi kita sudah jadi incaran terbaik para penikmat kopi. Semua tersampaikan dengan baik dalam film ini, termasuk jenis-jenis kopi yang banyak diincar di Indonesia sendiri seperti Malabar, Gayo, dan Papua. Aku yang awam soal kopi jadi manggut-manggut tanpa perlawanan.
Walaupun ada kata filosofi, film ini tidaklah terlalu berat dicerna. Rangkaian cerita cukup menarik dan mampu menguras emosi penonton. Film ini juga penuh edukasi dan informasi tentang kopi, bahwa negara kita tercita ini adalah gudangnya kopi terbaik yang tersebar di pelosok Nusantara. Tiap daerah mempunyai karakter tersendiri dan kenikmatannya tidak bisa disandingkan satu sama lain.
Dalam film ini sutradara mengilustrasikan pengaruh berbagai bentuk budaya  popular dengan menghadirkan cerita yang lebih kompleks identitas para tokoh yang ditampilkan. Kali ini, alur cerita akan mengangkat kisah cinta segi empat antara para pemainnya, yaitu Ben, Jody, Tarra (Luna Maya), dan Brie (Nadine Alexandra). Kisah ini disajikan dengan lebih kompleks dan mengaduk emosi dalam. Untuk segi penggambaran cerita mengenai “Filosofi kopi dalam sequel kedua ini bagi saya terkesan kurang. Adegan pemeran dan cerita yang dibawa lebih mengarah kepada kisah percintaan segi empat dari dua wanita yang dimunculkan yaitu Luna Maya (Tarra)  dan Nadine Nadine Alexandra (Brie) . Namun, tanggapan subjektif yang kuat terhadap sebuah film yang membentuk ulasan film bisa menjadi dasar analisis kritis yang kuat.Alasan mengapa menggunakan kata “filosofi masih belum tergambar. Memiliki makna Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar.  Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.
Secara Teknis Angga Dwimas Sasongko yang saya sukai dari "Film Tentang Kopi" adalah pengamatannya yang lembut, halus, namun penuh gaya: Seperti sekelompok orang kopi yang benar-benar mengagumkan berkumpul bersama, dan mereka mengundang orang keren ini "bukan profesional kopi tapi seseorang yang menghargai selera dan estetika kopi "untuk bergaul dengan mereka. Orang baru tidak berkontribusi pada percakapan kopi yang terjadi di sekelilingnya tapi lebih suka menyerapnya. Ia berdiri di samping dan hanya menghormati narasi yang ada di sekitarnya, tanpa jatuh ke dalam pertarungan bencana tapi terlalu umum untuk melangkah ke dalam bingkai dan / atau mendorong untuk mempengaruhi arus sebuah cerita yang alami dan otentik.
Selain itu film ini melibatkan bentuk-bentuk simbol visual dan linguistik untuk mengodekan pesan yang sedang disampaikan. Ketika berkembangnya sebuah cerpen kedalam berbagai media maka masyarakat lebih mudah mengenali cerita, karena tidak hanya dari satu media saja. Orang yang membaca dan memiliki minat pada sastra bisa tahu Filosifi Kopi dari cerpen, sementara para penikmat film bisa mengenal kisah Filosofi kopi melalui film.  Ya dengan kata lain kamu yang bukan pecinta kopi rasanya juga mampu menikmati film ini secara utuh.



                                                                                Yesika Natalina Sidabutar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Critical Eleven (2017) 11 Menit Mengubah Kisah Cinta Mu……

Ika Natassa bisa dibilang sebagai penulis novel fiksi laris yang memiliki banyak penggemar yang setia menanti karya-karyanya. Critical Eleven yang terbilang ambisius dibanding novel-novelnya yang lain, bahkan ludes dan meraih gelar best-selling hanya dalam sebelas menit pre order-nya dan dicetak ulang hingga berkali-kali. Entah gimmick atau bukan, harus diakui Ika memiliki magis kuat yang memikat banyak pembacanya untuk terus kecanduan membaca novel-novelnya. Beberapa Pemain dalam film ini seperti : Reza Rahadian (Ale), Adinia Wirasti (Anya), Hamish Daud (Dony), Widyawati (Ibu Ale), Slamet Rahardjo (Ayah Ale), Revalina S. Temat (Raisa), Refal Hadi (Harris), Nino Fernandez (Suami Agnes), Astrid Tiar(Sahabat Anya), Mikha Tambayong (Renata), Anggika Bolsterli (Keara), Hannah Al Rasyid (Tara), Aci Resti (Tini) Film drama Indonesia berjudul “Critical Eleven” ini merupakan film yang diangkat dari sebuah novel yang best seller hasil karya dari Ika Natassa dengan judul yang sama ju...