Langsung ke konten utama

Critical Eleven (2017) 11 Menit Mengubah Kisah Cinta Mu……

Ika Natassa bisa dibilang sebagai penulis novel fiksi laris yang memiliki banyak penggemar yang setia menanti karya-karyanya. Critical Eleven yang terbilang ambisius dibanding novel-novelnya yang lain, bahkan ludes dan meraih gelar best-selling hanya dalam sebelas menit pre order-nya dan dicetak ulang hingga berkali-kali. Entah gimmick atau bukan, harus diakui Ika memiliki magis kuat yang memikat banyak pembacanya untuk terus kecanduan membaca novel-novelnya.


Beberapa Pemain dalam film ini seperti : Reza Rahadian (Ale), Adinia Wirasti (Anya), Hamish Daud (Dony), Widyawati (Ibu Ale), Slamet Rahardjo (Ayah Ale), Revalina S. Temat (Raisa), Refal Hadi (Harris), Nino Fernandez (Suami Agnes), Astrid Tiar(Sahabat Anya), Mikha Tambayong (Renata), Anggika Bolsterli (Keara), Hannah Al Rasyid (Tara), Aci Resti (Tini)
Film drama Indonesia berjudul “Critical Eleven” ini merupakan film yang diangkat dari sebuah novel yang best seller hasil karya dari Ika Natassa dengan judul yang sama juga. Pada film ini bercerita mengenai kisah asmara atau cinta serta pernikahan dari Anya ( Adinia Wirasti ) dengan Ale ( Reza Rahadian ). Mereka merupakan pasangan yang saling mencintai dan harus menghadapi sebuah tragedy terbesar dalam perjalanan pernikahan mereka saat Aidan, bayi yang dikandung oleh Anya harus meninggal dunia.
Semua misi tentang cinta ini disajikan ke dalam sebuah film dengan durasi yang mencapai 135 menit. Critical Eleven adalah analogi tentang keadaan dalam pesawat yang paling kritis yaitu 3 menit sesaat setelah terbang dan 8 menit sesaat sebelum mendarat yang mewakili kehidupan setiap orang. Ini pula yang dirasakan sesaat ketika film berjalan di durasinya yang panjang. Film Critical Eleven sebagai sebuah pesawat mengalami masa kritis itu tak selamanya dengan mulus. Sesekali ada Turbulensi yang terjadi saat film baru saja menerbangkan sayapnya dan sesaat sebelum film akhirnya tiba di tujuan. 
Duka atas kepergian Aidan menciptakan jarak di antara mereka dan akhirnya mengancam kebahagiaan Anya dan Ale sebagai sebuah keluarga.  Sampai Siklus rasa bersalah dari Ale dan Anya dan , kesalahan, diputar ulang di adegan kekuatan emosional yang terik, yang menghasilkan pertunjukan yang memukau. Itu berhasil dalam melakukannya adalah semua lebih mengesankan, mengingat tempo yang diukur (beberapa akan dikatakan lambat.
Tanya ini bukannya tanpa alasan. Penonton dapat merasakan perubahan atmosfer dalam chemistry Adinia Wirasti dengan Reza Rahadian semenjak konflik besar memasuki arena penceritaan. Kehangatan telah tiada, tergantikan oleh rasa dingin. Mereka sanggup ciptakan kecanggungan mengusik ketenangan ketika Anya dan Ale berada di satu ruangan, seperti saat mereka makan malam bersama
Critical Eleven sebuah kisah yang Monty Tiwa mengambil beberapa kebebasan modern yang terkini saat ia membawa penonton melihat keadaan  dengan suasana luar negeri yang menyenangkan seperti Newyork. Diluar dari setting luar negeri yang pasti cantik, pengambilan gambar saat di dalam negeripun juga tak kalah menawan gambar yang dihasilkan.
                                                                                                                               

Yesika Natalina Sidabutar
x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILOSOFI KOPI II (2017) Kopi pertama pagi ini! Sehitam malam. Semanis Cemburu

“KOPI YANG ENAK AKAN MENEMUKAN PENIKMATNYA…….." Hidup memang terkadang ada yang pahit, namun juga ada sisi manisnya. Dan itu bisa terjadi kepada siapa saja. Secangkir kopi dapat menggambarkan sisi-sisi kehidupan diri kita, maka tidak heran secangkir kopi dapat hadir dengan berbagai varian dan sajian. Ngopi adalah hal yang universal, dari pelosok desa sampai metropolitan pun sudah hal jamak. Namun masalah selera dikembalikan pada masing-masing pribadi. Penilaian terbaik akan kopi tidaklah sama, yang bisa kita lakukan adalah belajar mengapa kopi itu dikatakan terbaik, dan setiap orang dapat berbagi untuk itu dengan melihat dari berbagai sisi. Sebagaimana yang pernah diakui  Angga Dwimas Sasongko " Orang Indonesia kan nggak ada budaya superhero atau cerita luar angkasa. Sulitlah kita untuk bisa punya hal-hal seperti Marvel atau Star Wars. Namun kita punya budaya kopi, jadi kenapa semesta (Filosofi Kopi) ini nggak kita gedein?" Cerita yang diadaptasi dari cerita ...