Ika Natassa bisa dibilang sebagai
penulis novel fiksi laris yang memiliki banyak penggemar yang setia menanti
karya-karyanya. Critical Eleven yang terbilang ambisius dibanding
novel-novelnya yang lain, bahkan ludes dan meraih gelar best-selling hanya
dalam sebelas menit pre order-nya dan dicetak ulang hingga berkali-kali. Entah
gimmick atau bukan, harus diakui Ika memiliki magis kuat yang memikat banyak
pembacanya untuk terus kecanduan membaca novel-novelnya.
Beberapa
Pemain dalam film ini seperti : Reza Rahadian (Ale), Adinia Wirasti (Anya),
Hamish Daud (Dony), Widyawati (Ibu Ale), Slamet Rahardjo (Ayah Ale), Revalina
S. Temat (Raisa), Refal Hadi (Harris), Nino Fernandez (Suami Agnes), Astrid
Tiar(Sahabat Anya), Mikha Tambayong (Renata), Anggika Bolsterli (Keara), Hannah
Al Rasyid (Tara), Aci Resti (Tini)
Film
drama Indonesia berjudul “Critical Eleven” ini merupakan film yang diangkat
dari sebuah novel yang best seller hasil karya dari Ika Natassa dengan judul
yang sama juga. Pada film ini bercerita mengenai kisah asmara atau cinta serta
pernikahan dari Anya ( Adinia Wirasti ) dengan Ale ( Reza Rahadian ). Mereka
merupakan pasangan yang saling mencintai dan harus menghadapi sebuah tragedy
terbesar dalam perjalanan pernikahan mereka saat Aidan, bayi yang dikandung
oleh Anya harus meninggal dunia.
Semua
misi tentang cinta ini disajikan ke dalam sebuah film dengan durasi yang
mencapai 135 menit. Critical Eleven adalah analogi tentang keadaan dalam pesawat
yang paling kritis yaitu 3 menit sesaat setelah terbang dan 8 menit sesaat
sebelum mendarat yang mewakili kehidupan setiap orang. Ini pula yang dirasakan
sesaat ketika film berjalan di durasinya yang panjang. Film Critical Eleven
sebagai sebuah pesawat mengalami masa kritis itu tak selamanya dengan mulus.
Sesekali ada Turbulensi yang terjadi saat film baru saja menerbangkan sayapnya
dan sesaat sebelum film akhirnya tiba di tujuan.
Duka
atas kepergian Aidan menciptakan jarak di antara mereka dan akhirnya mengancam
kebahagiaan Anya dan Ale sebagai sebuah keluarga. Sampai Siklus rasa bersalah dari Ale dan Anya
dan , kesalahan, diputar ulang di adegan kekuatan emosional yang terik, yang
menghasilkan pertunjukan yang memukau. Itu berhasil dalam melakukannya adalah
semua lebih mengesankan, mengingat tempo yang diukur (beberapa akan dikatakan
lambat.
Tanya
ini bukannya tanpa alasan. Penonton dapat merasakan perubahan atmosfer dalam
chemistry Adinia Wirasti dengan Reza Rahadian semenjak konflik besar memasuki
arena penceritaan. Kehangatan telah tiada, tergantikan oleh rasa dingin. Mereka
sanggup ciptakan kecanggungan mengusik ketenangan ketika Anya dan Ale berada di
satu ruangan, seperti saat mereka makan malam bersama
Critical
Eleven sebuah kisah yang Monty Tiwa mengambil beberapa kebebasan modern yang
terkini saat ia membawa penonton melihat keadaan dengan suasana luar negeri yang menyenangkan
seperti Newyork. Diluar dari setting
luar negeri yang pasti cantik, pengambilan
gambar saat di dalam negeripun juga tak kalah menawan gambar yang dihasilkan.
Yesika Natalina Sidabutar
x

Komentar
Posting Komentar